Sabtu, 03 Oktober 2015

Keistimewaan Muharram dan Sejarah Tahun Hijriyah

KEISTIMEWAAN 10 MUHARRAM DAN SEJARAH TAHUN HIJRIYAH


A.      Keistimewaan 10 Muharram
Muharam merupakan bulan pertama dalam hitungan tahun hijriyah pada bulan ini pula banyak umat Islam yang melakukan ibadah ritual dalam rangka menghormati dan mengagungkannya terutama pada tanggal 10 Muharram. Kata Muharram, secara etimologi diambil dari bahasa Arab “Harrama-Yuharrimu-Tahriiman-Muharrimun-wa-Muharramun”, yang berarti “diharamkan”. Yakni, Muharram adalah sesuatu yang dihormati/yang terhormat dan yang diharamkan (dari hal-hal yang tidak baik). Sebagaimana tertulis dalam sejarahnya, bahwa pada bulan Muharram ini umat Muslim diharamkan Allah untuk berperang.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dan salah satu dari 12 bulan dalam kalender hijriah yang tercantum pada Kitabullah, sejak Allah SWT menjadikan alam semesta. Allah SWT berfirman:   
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (Maksudnya ialah: bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri (Maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan) kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. At Taubah: 36).

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut?. Imam Ahmad, Abu Daud, An Nasâ’i, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan banyak rawi lainnya meriwayatkan Hadits dari Abi Bakroh, Nabi Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda:
عَنْ أبِيْ بَكْرَةَ رضي الله عنه أنّ النّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم خَطَبَ فِيْ حَجِّتِهِ، فَقَالَ: ألَا إِنَّ الزَّمَانَ قَدِاسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَاأَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُوالْقَعْدَةِ وَذُوالْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَالَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Bukhari Muslim).

Bulan-bulan tersebut disebut bulan haram, menurut Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.[1]

Pada tahun baru Hijriyah, terutama tanggal 10 Muharram, bagi orang yang kurang mengerti tentang Islam, mereka akan memperingatinya dengan cara yang kurang tepat karena bertitik tolak dari anggapan yang kurang tepat pula. Mereka yang demikian tersebut menganggap Muharram (syura) adalah bulan keramat, angker, atau naas dan berbahaya. Oleh karena itu, peringatan yang diadakan juga bermacam-macam, antara lain; begadang semalam suntuk, berjalan (pawai) semalam suntuk, mengadakan sesaji ke laut atau tempat-tempat yang dianggap keramat, mandi keramas (berendam) supaya awet muda, memandikan (marangi) pusaka, seperti keris, tombak dan lain sebagainya.

Demikian itu mereka lakukan karena menurut keyakinannya, mereka takut celaka, takut kena musibah, dan sejenisnya. Padahal sebenarnya hal tersebut sama sekali tidak diajarkan oleh Islam, bahkan hal itu bisa mengantarkan pelakunya pada jurang kemusyrikan. Mencela waktu merupakan kebiasaan orang-orang musyrik, Allah berfirman:   
“dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (QS. Al Jatsiyah: 24).

Dalam sebuah Hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.(رَوَاهُ الْمُسْلِمُ)
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim).

Pada bulan Muharram yang paling relevan untuk dilakukan adalah apa yang pernah diketengahkan oleh Amirul Mu’minin, Umar Ibn Khaththab: “Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu” (Koreksilah diri kalian, sebelum kalian semua dikoreksi (di akhirat) kelak). Dalam ungkapan itu yang dimaksud adalah seruan pada umat secara kolektif untuk introspeksi diri terhadap apa yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Bukan malah berpoya-poya, berpestaria, ber-SEPHIA-mesra (Sabu-Ekstasi-Putaw-Heroin-Inex-Alkohol) dan bervulgaria bersama penjaja cinta sebagaimana yang dilakukan oleh (sebagian) orang-orang Barat. Betapa sangat terpuji dan mulianya jika dana pesta-pesta tersebut, sarana dan prasana penyambutan tahun baru yang tidak bermanfaat itu dialokasikan kepada mereka yang masih selalu menjerit kelaparan, merintih kehausan, menangis kehilangan tempat tinggal, menggigil kedinginan dan yang mengerang kepanasan. Masih adakah empati kita pada mereka? Ataukah empati itu sudah tertutup dengan dinding tebal apatis dan egois kita?

Pada tanggal 10 Muharaam terjadi peristiwa besar yang menyenangkan dan menyedihkan hal ini dicatat sebagai sejarah besar bagi umat Islam. Diantara peristiwa tersebut adalah:
1.         Diciptakannya langit, bumi, laut, gunung dan surga.
2.         Diciptakannya Nabi Adam dan Hawa.
3.         Diterimanya taubat Nabi Adam dan Hawa.
4.         Dilahirkannya Nabi Ibrahim dan diselamtkan dari api yang membakarnya.
5.         Terjadi peristiwa mimpi Nabi Ibrahim tentang menyembelih Nabi Ismail dan digantikan dengan sembelihan yang lebih besar.
6.         Ditenggelamkannya Fir’aun dan diselamatkannya Nabi Musa dari Fir’aun.
7.         Disembuhkannya penyakit Nabi Ayub.
8.         Diampuninya dosa Nabi Daud.
9.         Dikembalikannya kerajaan Nabi Sulaiman.
10.     Dilahirkannya Nabi Isa.
11.     Diselamatkannya Nabi Isa dan Nabi Idris dari kekejaman umatnya.
12.     Diselamatkannya Nabi Nuh dan pengikutnya dari banjir.[2]
13.     Diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa.
14.     Dikeluarkannya Nabi Yusuf dari penjara.
15.     Dikeluarkannya Nabi Yunus dari perut ikan yang memakannya.
16.     Awal diturunkannya rahmat Allah ke bumi.
17.     Awal turunnya hujan di bumi.[3]
18.     Terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Talib di Karbala pada waktu bertempur melawan Bani Umayyah (10 Muharram 61 H/10 Oktober 680 M).[4]

Peristiwa-peristiswa tersebut merupakan peristiswa perputaran siklus kehidupan manusia antara senang, bahagia, sukses, sedih, sengsara, dan gagal. Hal ini akan dialami oleh semua manusia agar dijadikan pelajaran supaya bersabar, tidak sombong dan merubah kehidupannya kearah yang lebih baik. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 140: 
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

Dalam menghormati dan mengagungkan tanggal 10 Muharram hendaknya dilakukan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dan bukan dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyalahi anjuran Nabi Muhammad SAW seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yaitu dengan memukul-mukul kepala dan punggung sebagai gambaran kesedihan atas terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia ada sebagian masyarakat yang suka membuat bubur suro/bubur Hasan-Husein dari beras dengan bumbu kedelai dan palawija (keluwek) di Sumatra Barat dilaksanakan perayaan Tabut. 

Ada banyak hadits Nabi yang menganjurkan umat Islam agar berpuasa pada tanggal 10 Muharram diantarnya:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ اْلمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اْليَهُوْدَ صِيَاماً يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا هَذَا اْليَوْمُ الَّذِيْ تَصُوْمُوْنَهُ؟) فَقَالُوْا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ أَنْجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَقَوْمَهُ، وَأَغْرَقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْراً، فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلىَ بِمُوْسَى مِنْكُمْ) فَصَامَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
“Dari Ibnu Abbas r.a bahwa ketika Rasulullah Saw di Madinah berjumpa kepada orang Yahudi sedang berpuasa ‘Asura. Rasulullah Saw berkata kepada mereka: Hari ini hari apa, kenapa kalian berpuasa pada hari ini? Mereka (orang Yahudi) berkata: Hari ini adalah hari agung, dimana Allah Swt telah menyelamatkan Musa dan umatnya, dan Allah tenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya, pada hari ini Musa berpuasa karena kesyukurannya tersebut, oleh karena itulah kami juga (orang Yahudi) melakukan puasa pada hari ini (hari ‘Asyura). Berkata Rasulullah Saw: Maka kamilah yang lebih berhak terhadap Musa daripada kamu sekalian (orang Yahudi), maka Rasulullah Saw berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa (pada hari ‘Asyura)”.(HR. Bukhari Muslim)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
Dari Abi Hurairah R.A berkata. Bersabda Rasulullah SAW “Sebaik-baiknya puasa setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah yaitu Muharram”.[5]
مَارَوَاهُ اْلإِمَامُ أَحْمَدَصُوْمُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَالِفُوْا اْليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا. (أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ خُزَيْمَةَ)
Riwayat Imam Ahmad “Berpuasalah kalian di hari tanggal 10 Muharram dan bedakanlah dengan orang Yahudi maka berpuasalah kalian satu hari sebelumnya (tanggal 9 Muharram) dan satu hari setelahnya (tanggal 11 Muharram)”.[6]
وَيُسَنُّ مُتَأَكِّدًاصَوْمُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ  يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَإِنَّمَالَمْ يَجِبْ صَوْمَهُ لِلأَخْبَارِ الدَّالَةِ بِالأَمْرِ بِصَوْمِهِ لِخَبَرِالصَّحِيْحَيْنِ إِنَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَلَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
Dan disunahkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebab Nabi bersabda “puasa tanggal 10 Muharram dapat menghapus dosa satu tahun sebelumnya”. Kemudian puasa tanggal 10 Muharram tidak wajib karena ada beberapa dalil perintahkannya berpuasa seperti riwayat Bukhari Muslim “sesungguhnya hari ini adalah hari tanggal 10 Muharram dan tidak diwajibkan atasmu berpuasa maka barangsiapa hendak berpuasa silahkan berpuasa dan barangsiapa hendak buka maka silahkan tidak berpuasa”.[7]
 
Untuk membedakan antara ritual puasa tanggal 10 Muharram yang dilakukan kaum Yahudi sebagai rasa syukur mereka atas selamatnya Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun maka ada Hadits yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW akan melaksanakan puasa dari tanggal 9 Muharram, namun belum terlaksana karena beliau wafat:
قَالَ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَالسَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ  وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ .وَقَالَ  لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَلأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ، فَمَاتَ قَبْلَهُ. (رَوَاهُ مُسْلِمُ)
Nabi bersabda “Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa satu tahun sebelum dan sesduahnya. Sedangkan puasa tanggal 10 Muharram dapat menghapus dosa satu tahun sebelumnya, dan jika aku masih hidup tahun depan pasti aku akan berpuasa dari tanggal 9 Muharram”. namun sebelum hal itu terjadi Nabi Muhammad SAW sudah wafat. (HR. Muslim).[8]

Selain berpuasa, pada tanggal 10 Muharram disunahkan memperbanyak shodaqoh, sebagaimana hadits dari Abi Hurairah R.A:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ  اِفْتَرَضَ عَلَى بَنِى اِسْرَائِيْلَ صَوْمَ يَوْمٍ فِى السَّنَةِ وَهُوَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهُوَالْيَوْمُ الْعَاشِرُ مِنَ  الْمُحَرَّمِ.فَصُوْمُوْهُ وَوَسِعُوْا عَلَى عِيَالِكُمْ فِيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ وَسَعَ فِيْهِ عَلَى عِيَالِهِ وَأَهْلِهِ مِنْ مَالِهِ وَسَعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَسَنَتِهِ ......(رَوَاهُ التًّرْمُذِيُ فِيْ سُنَنِهِ، وَقَالَ :حَدِيْثُ ابْنِ عَبَّاسِ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ).
Dari Abi Hurairah R.A berkata, Rasulullah SAW bersabda “Sesunggguhnya Allah Azza Wajalla mewajibkan kepada Bani Israil berpuasa satu hari dalam satu tahun yaitu tanggal 10 Muharram. Maka berpuasalah kalian dan lapangkanlah kerabat dan keluarga kalian maka barangsiapa melapangkan kerabat dan keluarganya dengan hartanya pada tanggal 10 Muharram maka Allah akan melapangkannya satu tahun berikutnya”.[9]

Selanjutnya dalam hadits tersebut juga dijelaskan beberapa perbuatan pada tanggal 10 Muharram dengan balasan yang besar, yaitu:
1.         Barangsiapa berpuasa maka ia seakan-akan berpuasa satu tahun.
2.       Barangsiapa berbuat baik terhadap satu orang anak yatim maka seakan-akan ia berbuat baik terhadap seluruh anak yatim di dunia.
3.   Barangsiapa member minum maka Allah akan memberikan minum kepadanya pada hari dimana manusia sedang kehausan.

B.       Sejarah Tahun Hijriyah
Adapaun kata-kata “hijrah” dan pecahan katanya, dalam al Quran ada lebih dari 30 kata. Kata-kata hijrah dirangkai dengan kata-kata “iman” dan “jihad”. Hal itu menunjukkan bahwa hijrah adalah suatu tingkat dalam perjuangan (jihad) yang berlandaskan kepada keimanan. Firman Allah SWT:   
“Orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan dirinya, lebih tinggi derajatnya pada sisi Allah, Mereka itulah orang-orang yang menang. Tuhan menyampaikan berita gembira kepada mereka dengan beroleh rahmat, ridhaNya dan surga yang di dalamnya mereka memperoleh nikmat yang abadi”. (QS. At-Taubah: 20-21).

Derajat yang tinggi dari Allah SWT tersebut merupakan penghargaan bagi orang-orang yang berjuang, berjihad dan berkurban demi agama-Nya. Perjuangan harus dilandasi dengan iman yang kuat dan mendalam. Jihad adalah upaya dengan sungguh-sungguh sehingga nampak jelas garis pemisah antara yang hak dan yang batil.

Setiap tahun umat Islam selalu mengalami perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan dan akhir Ramadhan. Padahal kalau ditelusuri sejarah dibuatnya kalender Hijriyah (kalender yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi) atau disebut juga Tahun Qomariyah (qomarun artinya bulan). Maka tidak perlu lagi ada perbedaan itu. Mengapa? Sebab satu kali bulan mengelilingi bumi itu tidaklah pas 29 hari atau 30 hari. Walaupun sekarang sudah dapat dilihat pada kalender bahwa bulan Muharam itu 30 hari, Syafar 29 hari, Rabiul Awal 30 hari, Rabiul akhir 29 hari dan seterusnya... itu berdasarkan kesepakatan para ulama fiqih dan para ulama akhli astronomi (Ahli Ilmu Falaq) pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Bagaimana kejadiannya?

Allah SWT telah menciptakan bulan sebagai satelit bumi. Bola kecil ini selalu berevolusi mengelilingi bumi dalam waktu yang telah ditentukan pada lintasan yang telah ditentukan pula. Bulan berotasi terhadap porosnya selama 27,3 hari. Ia pun berevolusi terhadap bumi selama 27,3 hari. Efek dari perputaran ini, permukaan bulan yang terlihat dari bumi tidak berubah dari waktu ke waktu. Salah satu manfaat dari penciptaan bulan adalah kegunaannya sebagai patokan dalam penentuan penanggalan. Allah SWT berfirman:   
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus: 5).

Dalam ayat tersebut Allah SWT juga memberikan ‘kesaksian’ bahwa bulan digunakan sebagai patokan penanggalan. Selain itu apabila melihat realitas yang terjadi pada manusia, beberapa kalender juga menggunakan sistem lunar calendar. Ambil contoh, Kalender Jawa dan Kalender Hijriah. Keduanya menggunakan sistem lunar calendar, sistem kalender yang acuan perhitungannya didasarkan atas pergerakan bulan.
Pergerakan Bulan Ada dua macam. Pertama, Siderial month yaitu periode yang dibutuhkan bulan untuk berputar 360° mengelilingi bumi, lamanya 27,321 hari. Kedua Synodic month yaitu periode antara satu bulan baru dengan bulan baru lainnya, lamanya 29,53059 hari atau 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik. Ada perbedaan sekitar 2 hari dengan siderial month karena bumi juga berevolusi terhadap matahari pada arah yang sama, sehingga untuk mencapai konjungsi berikutnya memerlukan tambahan waktu. Dari kedua fase tersebut, yang umum digunakan dalam penentuan Kalender Hijriah adalah synodic month. Arah revolusi bulan terhadap bumi sama dengan arah revolusi bumi terhadap matahari, dari Barat ke Timur. Akibat dari revolusi bulan ini dan kombinasinya dengan revolusi bulan mengelilingi matahari, penduduk bumi dapat menyaksikan berbagai macam fase bulan, mulai dari bulan baru, bulan separuh, sampai klimaksnya pada fase bulan purnama kemudian bulan mati dan akan kembali lagi ke titik awal revolusi, dimulai lagi dari fase bulan baru. Setiap bulan, terjadi peristiwa konjungsi (ijtimak) dimana matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis bujur yang sama, dilihat dari arah timur maupun barat. Peristiwa penting inilah yang menjadi patokan awal bulan baru, meskipun tidak semua aliran menjadikan konjungsi sebagai tanda dimulainya awal bulan.

Kalender hijriah, didasarkan atas pergerakan sinodis bulan, yaitu selama 29,5309 hari atau 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik. Sehingga dalam waktu 12 bulan akan mencapai sekitar 354,367 hari. Mengapa yang dipilih sebagai jumlah bulan dalam tahun hijriah adalah 12? Menurut Dr. Ali Hasan Musa, sebenarnya tidak ada argumentasi astronomis satupun yang mendasari akan hal ini. Akan tetapi, salah satu alasan yang dapat digunakan adalah, karena dengan 12 bulan akan mendekati jumlah hari pada solar calendar. Sebenarnya apabila merujuk kembali pada Firman Allah SWT surat at Taubah ayat 36. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sejak awal, Allah SWT sudah menentukan bahwa jumlah bilangan bulan dalam al Quran adalah 12. Hal ini juga berdasarkan atas Hadits Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, al Nasâ’i, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan banyak rawi lainnya. Dari Abu Bakroh, sesungguhnya Nabi SAW berkhutbah pada haji wadâ‘, beliau bersabda:
عَنْ أبِيْ بَكْرَةَ رضي الله عنه أنّ النّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم خَطَبَ فِيْ حَجِّتِهِ، فَقَالَ: ألَا إِنَّ الزَّمَانَ قَدِاسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَاأَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُوالْقَعْدَةِ وَذُوالْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَالَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Bukhari Muslim).

Pada awalnya, masyarakat Arab kuno menggunakan sistem lunar calendar murni. Namun, pada tahun 200 sebelum hijrah, masyarakat Arab mengubahnya menjadi sistem lunisolar calendar yang untuk mengsingkronkan dengan musim maka dilakukan dengan menambah jumlah bulan atau interkalasi (al nasî’). Kemudian, setelah turunnya Surah at Taubah ayat 36, yang terkait dengan pelarangan interkalasi yang merupakan konsekuensi dari lunisolar calendar, maka dirubahlah sistem kalender masyarakat Arab menjadi murni lunar calendar. Pada hari Rabu, 20 Jumadil Akhir 17 Hijriah, pada masa Kekhilafahan Umar bin Khathab, diproklamirkanlah kalender hijriah yang tahun 1 Hijriahnya dimulai pada tahun dimana Nabi SAW berhijrah dari Mekah ke Yastrib (Sekarang namanya Madinah).

Menariknya, meskipun bulan Muharram merupakan bulan pertama tahun Hijriyah, ternyata Muharram bukan awal permulaan hijrah Nabi SAW. Sebab hijrah beliau tepat pada tanggal 2 atau 4 Rabiul Awal tahun ke-13 tahun Kenabian bertepatan dengan tanggal 14 atau 16 September 622 M, bukan pada awal Muharram yang ketika itu bertepatan dengan tanggal 15 Juli 622 M, antara permulaan hijrah Nabi SAW dan permulaan kalender Islam (Muharram) sesungguhnya terdapat jarak sekitar 62 atau 64 hari, dan antara keduanya terdapat bulan Shafar. Nabi sampai di Madinah pada hari Jum’at tanggal 12 Rabiul Awal tahun ke-13 tahun Kenabian bertepatan dengan tanggal 24 September 622 M.[10] Jarak kota Mekkah dan Madinah kira-kira 498 KM.

Ada perbedaan selama 11 hari antara tahun hijriah yang berjumlah sekitar 354 hari dengan tahun masehi yang berjumlah sekitar 356 hari. Oleh karena tidak berdasarkan pada pergerakan matahari yang sudah tentu tidak memperhitungkan pergantian musim, maka terkadang awal tahun hijriah dimulai pada musim dingin dan setelah 16 tahun akan dimulai pada musim panas. Adapun 12 bulan dalam kalender hijriah adalah Muharam 30, Safar 29, Rabiul Awal 30, Rabiul Akhir 29, Jumadil Awal 30, Jumadil Akhir 29, Rajab 30, Sya’ban 29, Ramadan 30, Syawal 29, Zulkaidah 30, Zulhijah 29. Metode Kalender Hijriah (Hisâb ‘Urfi) Menurut hisab urfi, dalam kalender hijriah ada 354 hari. Namun sebenarnya, perputaran bulan hakiki selama satu tahun adalah 354,367 hari atau 354 hari 8 jam 44 menit 35 detik (Periode sideris 29,53059 x 12 = 354,367). Tentunya manusia tidak mungkin menggunakan kalender dengan sisa 0,367 hari tersebut. Untuk menyiasati hal ini, maka dilakukan tiga metode.
1.  Peredaran bulan sinodis: 29 menit 12 jam 44 menit 2,8 detik. Angka 2,8 detik diabaikan karena sangat kecil sehingga tidak berarti. Dengan demikian, rata-rata hari dalam satu tahun adalah: 29,5 hari x 12 = 354 hari 44 menit x 12 = 528 menit Jadi, dalam setahun ada 354 hari 528 menit.
2.  Berhubung manusia tidak mungkin menggunakan kalender dengan jumlah hari 0,5 maka untuk menyiasatinya bilangan pecahan 29,5 hari tersebut dikalikan dengan 2 sehingga menjadi 59 hari (hitungan 2 bulan). 30 hari diberikan kepada bulan ganjil, 29 hari diberikan kepada bulan genap. Sehingga, dalam satu tahun ada 6 bulan yang berjumlah hari 29 dan 6 bulan yang berjumlah hari 30. Apabila dijumlahkan maka akan didapatkan angka 354 hari (jumlah hari dalam satu tahun hisab urfi).
3.    Terdapat sisa 44 menit setiap bulan yang akan menjad 528 menit setiap tahun. Dalam waktu 3 tahun, jumlah ini akan menjadi 1 hari lebih (528 x 3 = 1548 menit, 1 hari = 1440 menit). Dalam siklus 1 daur (30 tahun), 1 daur dipilih 30 tahun karena apabila 0,367 hari yang merupakan sisa hari setiap tahun dikalikan dengan 30 tahun akan menghasilkan 11,01 hari (dengan angka dibelakang koma terkecil) akan menjadi 15480 menit atau genap 11 hari (15480 : 1440 = 11). Sisa 11 hari tersebut didistribusikan kedalam tahun-tahun selama 1 daur (30 tahun). Masing-masing akan mendapatkan 1 tahun. Adapun tahun-tahun yang mendapatakan tambahan satu hari dalam periode 30 tahun itu adalah tahun-tahun yang angkanya merupakan kelipatan 30 ditambah 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26 dan 29. Atau digunakan syair (Huruf yang bertitik, menunjukkan urutan tahun kabisat, yang tidak bertitik menunjukkan basitah).

Dalam kalender hijriah, intervalnya memang terlihat tidak teratur, namun ada metode tersendiri dalam menetapkan tahun kabisat, yaitu dengan mengalihkan bilangan urutan tahun tersebut dengan sisa 0,367. Apabila sisanya lebih dari 0,5 (hari) maka tahun tersebut adalah tahun kabisat. Apabila sisanya kurang dari 0,5 hari, maka tahun tersebut adalah tahun basitah. Sebagai contoh: Tahun ke-1 x 0,367 = 0,367 (kurang dari 0,5 maka tahun basitah). Tahun ke-2 x 0,367 = 0,734 (lebih dari 0,5 maka tahun kabisat). Tahun ke-3 x 0,367 = 1,101 (berhubung 1 hari sudah dipakai di tahun kedua, maka menjadi 0,101, karena kurang dari 0,5 maka basitah). Tahun ke-4 x 0,367 = 1,468 (berhubung 1 hari sudah dipakai di tahun kedua, maka menjadi 0,468, karena kurang dari 0,5 maka basitah). Tahun ke-5 x 0,367 = 1,835 (berhubung 1 hari sudah dipakai di tahun kedua, maka menjadi 0,835, karena lebih dari 0,5 maka kabisat). Untuk mengetahui apakah suatu tahun itu kabisat atau basitah, caranya dengan membagi bilangan tahun dengan 30 (1 daur), sisa pembagiannya apabila terdapat pada salah satu angka di atas, maka ia kabisat. Misalkan tahun 1359 : 30 = 45 daur sisa 9 tahun, berarti 1359 merupakan tahun basitah. Tahun 1431 : 30 = 47 daur sisa 21 tahun, berarti, 1431 merupakan tahun kabisat.

Sebagai sebuah sistem penanggalan, lunar calendar (baca: kalender hijriah) layak untuk mendapatkan perhatian lebih dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalender hijriyah tidak terikat dengan pergantian musim, salah satu dampak positifnya bagi umat Islam yang menjalankan syariat -beberapa diantaranya terikat dengan penanggalan seperti haji dan puasa Ramadhan- adalah variasi musim ketika menjalankan syariat tersebut, tidak selalu ibadah haji dikerjakan di musim panas, begitu pula puasa Ramadhan. Kelebihan lain dari sistem kalender ini adalah, ia menggunakan pergerakan bulan sebagai acuannya. Bulan merupakan benda langit yang mudah dilihat dan diamati fase-fasenya. Ini yang menjadikan kelebihan sistem lunar calendar. Namun, seiring perkembangan zaman, tantangan akan penggunaan sistem kalender hijriah semakin banyak. Perbedaan umat Islam dalam menentukan awal bulan -diantaranya perbedaan antara mazhab rukyat murni dengan hisab-, permasalahan matlak, dan berbagai masalah lainnya menjadi tantangan bagi kalender hijriah. Sebagai seorang akademisi muslim, tantangan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang. Justru menjadi motivasi untuk lebih giat melakukan riset mengenai sistem kalender hijriyah.

DAFTAR PUSTAKA
1.        Tanbiihul Ghofilin, Syaikh Nashir bin Muhammad bin Ibrahim As Samarqandi, h. 122.
2.        Kitab I’anatuth Thalibin, Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syatha al Dimyathi, jilid. 2.
3.        Ihya Ulumid Diin, Imam Ghazali, Jilid. 1.
4.        Fathul Wahhab, Syaikh Islam Abi Yahya Zakaria al Anshori, Juz. 1.
5.        Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta, Jilid. 2 dan 3.
6.        Zadul Maysir, Ibnul Jauziy.
7.        Ahmad, Abdul Aziz Bakri, Mabâdi’ ‘Ilmil Falaq al Hadîts, Maktabah al Dâr al ‘Arabiyah li’l Kitâb, Kairo, Mesir, cet. I, 2010.
8.        Al Bukhâri, Muhammad bin Ismail, al-Jâmi‘ al Shahîh, ditahkik oleh Muhibbuddîn al Khathîb, al Mathba‘ah al Salafiyyah, Kairo, Mesir, vol. II, cet. I, 1403 H/1982 M.
9.        Al Dalâl, Syarqawi Muhammad Shâlih, Mausû‘ah ‘Ulûmi’l Falak wa’l Fadhâ’ wa’l Fîziyâ’ al Falakiyyah, Mu’assasah al Kuwait li al Taqaddum al ‘Ilmi, Kuwait, vol. II, t.t
10.    At Thabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir, Jaâmi‘u’l Bayân ‘an Ta’wîli Âyi’l Qur’ân, ditahkik oleh Adullah bin Abdul Muhsin al Turki, Markaz al Buhûts wa al Dirâsât al Islâmiyyah bi Dâr Hajar, Giza, Mesir, vol. 11, cet. I, 1422 H/2001 M.
11.    Azhari, Susiknan, Ilmu Falak; Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, Indonesia, cet. II, 2007.
12.    Fayâdh, Muhammad Muhammad, al-Taqâwîm, Nahdhah Mishr, Kairo, Mesir, cet. II, 2002.
13.    Musa, Ali Hasan, al Tauqît wa al Taqwîm, Dâr al Fikr, Damaskus, Syiria, cet. II, 1998.



[1] Zadul Maysir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36.
[2] Kitab Tanbiihul Ghofilin, Syaikh Nashir bin Muhammad bin Ibrahim As Samarqandi, h. 122.
[3] Kitab I’anatuth Thalibin, Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syatha al Dimyathi, jilid. 2, h. 267.
[4] Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta, Jilid. 3, h. 13.
[5] Kitab Ihya Ulumid Diin, Imam Ghazali, Jilid. 1, h. 238.
[6] Kitab I’anatuth Thalibin, Jilid. 2, h. 266.
[7] Ibid.
[8] Kitab Fathul Wahhab, Syaikh Islam Abi Yahya Zakaria al Anshori, Juz. 1, h. 124.
[9] Kitab I’anatuth Thalibin, Jilid. 2, h. 266.
[10] Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta, Jilid. 2, h. 111.

Jumat, 03 Juli 2015

Isra Mi'roj dan 7 Lapis Langit

Isra’ miraj adalah sebuah perjalanan spiritual lintas langit yang menakjubkan. Sebuah perjalanan dari bumi menembus tujuh lapis langit. Bagaimana persepsi anda tentang langit? Seberapa besar, seberapa jauh? Dimana letaknya? Berapa lama untuk mengarunginya? Nah, hikmah yang mesti kita ambil dari peristiwa isra miraj yang mengarungi tujuh langit adalah agar pemahaman kita lebih baik akan makna “Allah Maha Besar.” Langit adalah benda penuh misteri. Namun setidaknya, kita dapat menangkap sedikit informasi tentang langit sebagaimana yang tersebut oleh penciptanya dalam al Quran.

Setidaknya ada dua buah versi pemahaman manusia tentang langit: Langit Sughro (Langit Kecil) dan Langit Kubro (Langit Besar).

1.        Langit Sughro

Langit sughro adalah langit kecil, yaitu atmosfer yang menyelubungi bumi. Inilah pemahaman tentang langit versi pertama. Pemahaman ini berdasar pada ayat-ayat Al Quran sbb:

“Dialah yang menurunkan air hujan dari langit” (Al An’am: 99)
“Demi langit, dzat yang mengembalikan” (At Thariq: 11)
“dan langit sebagai atap…” (Al Baqarah : 22)
“yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis” (Al Mulk: 3)

Keempat informasi tentang langit dalam ayat-ayat di atas, sama dengan ciri-ciri atmosfer bumi kita, yaitu:

1)      Atmosfer terdiri atas 7 lapis yaitu: Troposfer, Stratosfer, Ozonosfer, Mesosfer, Termosfer, Ionosfer dan Eksosfer.
2)      Hujan turun dari awan yang membawa uap air. Ayat yang mengatakan “menurunkan air hujan dari langit”, menjelaskan bahwa posisi awan berada di langit, yaitu troposfer (lapisan atmosfer yang pertama).
3)      Atmosfer juga berfungsi sebagai atap pelindung dari benda-benda asing seperti batu meteor yang jatuh ke bumi. Benda asing yang menuju bumi akan terbakar karena gaya gesek berkecepatan tinggi dengan atmosfer. Selain itu, atomosfer juga melindungi dari sinar UV yang berbahaya bagi manusia. Itulah fungsi atmosfer sebagai atap, persis seperti yang tertuang dalam ayat yang mengatakan bahwa langit sebagai atap.
4)      Atmosfer juga berfungsi sebagi dzat yang mengembalikan (At Thariq 11). Ionosfer adalah lapisan atmosfer yang berfungsi untuk memantulkan gelombang radio. Gelombang pemancar radio dari bumi naik ke atas, dan oleh Ionosfer dikembalikan lagi ke bumi. Itulah mengapa kita dapat mendengarkan siaran radio dari belahan bumi lain seperti BBC London, Bens Radio, Elshinta dsb. Hujan, juga pada dasarnya merupakan proses pengembalian air ke bumi. Uap air dari bumi naik ke atmosfer, lalu dikembalikan lagi ke bumi. Jelasnya, atmosfer berfungsi sebagai lapisan yang “mengembalikan” sebagaimana dalam ayat “Demi langit, dzat yang mengembalikan”.

2.        Langit Kubro

Selain pemahaman tentang langit yang diartikan sebagai atmosfer bumi, langit adalah alam semesta yang lebih luas dari sekedar atmosfer. Hal ini tertuang dalam ayat:
“Dan Kami hiasai langit yang dekat dengan bintang-bintang” (QS Al Mulk: 5)
“Demi langit yang mengandung bintang-bintang” (QS Al Buruj: 1)

Bintang terletak di luar atmosfer bumi. Matahari adalah bintang yang paling dekat dengan bumi, dan jauh lebih besar dari bumi. Bintang-bintang di alam semesta membentuk kelompok bintang yang disebut dengan Galaksi. Galaksi kita bernama Bima Sakti yang memuat sekitar 100 milyard bintang-bintang. Bentuknya seperti cakram dengan diameter 80.000 tahun perjalanan cahaya. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik. Jadi, 80.000 tahun cahaya = 80.000 x 365 x 24 x 60 x 60 x 300.000 km… subhanallah….

Lebih mengagumkan lagi, ternyata galaksi juga jumlahnya luar biasa banyak. Sekitar 100 milliar galaksi akan membentuk cluster galaksi. Bayangkan, betapa besarnya cluster galaksi ini! Anda bisa hitung berapa banyak bintang-bintang yang ada di sebuah cluster galaksi? Subhanallah… Inilah bukti kebesaran Allah.

Cluster galaksi pun banyak jumlahnya. Nah, bintang-bintang yang tak terhitung banyaknya itulah yang menempati langit (QS Al Buruj: 1). Subhanallah, betapa luasnya langit…

Tentang Tujuh Langit

Sang Maha Pencipta secara tegas menginformasikan bahwa langit berjumlah tujuh. Untuk pemahaman langit versi pertama (Langit sughro), yang mendefinisikan langit adalah atmosfer, maka jelas bahwa yang dimaksud tujuh langit adalah lapisan-lapisan atmosfer yang berjumlah tujuh buah itu. Bagaimana dengan tujuh langit kubro? Inilah yang masih menjadi misteri besar bagi manusia. Ada beberapa pemahaman tentang ini. Ada yang memahami bahwa langit kubro ini juga secara fisik berlapis-lapis, sebagaimana langit sughro. Ada juga yang memahaminya bukan sebagai lapisan fisik, tapi lapisan dimensi sebagaimana terdapat dalam buku Terpesona di Sidratil Muntaha, karya Agus Mustofa.

Jika langit kubro pertama yang kita tempati berdimensi 3, maka langit ke-2, 3, 4, 5, 6, 7 adalah alam berdimensi 4, 5, 6, 7. Pemahaman versi ini mengatakan bahwa manusia hidup di langit dimensi 3, jin hidup di alam langit dimensi 4, arwah orang awam hidup di alam langit dimensi 5, arwah para nabi, aulia, dan syuhada, hidup di alam langit dimensi yang lebih tinggi tergantung kedudukannya. Waktu peristiwa isra mi’raj, Nabi Muhammad bertemu dengan beberapa nabi di berbagai lapisan langit. Nabi Muhammad bertemu Nabi Ibrahim di langit ke tujuh, bertemu Nabi Musa di langit ke enam. Juga bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Yusuf di lapisan langit-langit lainnya. (Agus Mustafa, Terpesona di Sidratil Muntaha).

Penghuni langit berdimensi lebih rendah tidak dapat melihat penghuni langit berdimensi lebih tinggi. Tapi penghuni langit berdimensi lebih tinggi dapat melihat penghuni langit yang berdimensi lebih rendah. Itulah sebabnya Manusia (umumnya) tidak dapat melihat jin tapi jin dapat melihat manusia. Kita tidak bisa mendengar rintihan arwah yang sedang disiksa, tapi arwah dapat mendengar bunyi alas kaki para pengantar jenazahnya.

Yang dimaksud 7 lapisan langit di sini bukan berarti langit tersebut menumpuk secara berlapis-lapis seperti kue lapis, tapi ketujuh lapisan tersebut semakin meningkat kedudukannya sesuai dengan bertambah tingkat dimensinya.
Pertambahan tingkat dimensi ketujuh lapisan langit tersebut hanya bisa digambarkan dengan memproyeksikannya ke langit pertama (dimensi ruang yang dihuni oleh kita) yang berdimensi tiga. Karena hanya ruang berdimensi tiga inilah yang bisa difahami oleh kita. Secara analog, kita bisa membuat perumpamaan sebagai berikut :
  
Penjelasan gambar:
Pada gambar 1 tampak bahwa sebuah garis berdimensi 1 tersusun dari titik-titik dalam jumlah tak terbatas. Kemudian garis-garis tersebut disusun dalam jumlah tak terbatas hingga menjadi sebuah luasan berdimensi 2 (Gambar 2). Dan jika luasan-luasan serupa ini ditumpuk ke atas dalam jumlah yang tak terbatas, maka akan terbentuk sebuah balok (ruang berdimensi 3).
Kesimpulannya adalah sebuah ruang berdimensi tertentu tersusun oleh ruang berdimensi lebih rendah dalam jumlah yang tidak terbatas. Atau dengan kata lain ruang yang berdimensi lebih rendah dalam jumlah yang tidak terbatas akan menyusun menjadi ruang berdimensi yang lebih tinggi. Misalnya, ruang 3 dimensi – dimensi ruang yang sekarang dihuni oleh kita ini – dengan jumlah tak terbatas menyusun menjadi satu ruang berdimensi empat.
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

 Langit pertama

Ruang berdimensi 3 yang dihuni oleh makhluk berdimensi 3, yakni manusia, binatang, tumbuhan dan lain-lain yang tinggal di bumi beserta benda-benda angkasa lainnya dalam jumlah yang tak terbatas. Namun hanya satu lapisan ruang berdimensi 3 yang diketahui berpenghuni, dan bersama-sama dengan ruang berdimensi 3 lainnya, alam semesta kita ini menjadi penyusun langir kedua yang berdimensi 4.

Langit kedua

Ruang berdimensi 4 yang dihuni oleh bangsa jin beserta makhluk berdimensi 4 lainnya. Ruang berdimensi 4 ini bersama-sama dengan ruang berdimensi 4 lainnya membentuk langit yang lebih tinggi, yaitu langit ketiga.

Langit ketiga

Ruang berdimensi 5 yang di dalamnya “hidup” arwah dari orang-orang yang sudah meninggal. Mereka juga menempati langit keempat sampai dengan langit keenam. Langit ketiga ini bersama-sama dengan langit ketiga lainnya menyusun langit keempat dan seterusnya hingga langit ketujuh yang berdimensi 9.

Bisa dibayangkan betapa besarnya langit ketujuh itu. Karena ia adalah jumlah kelipatan tak terbatas dari langit dunia (langit pertama) yang dihuni oleh manusia. Berarti langit dunia kita ini berada dalam struktur langit yang enam lainnya, termasuk langit yang ketujuh ini. Jika alam akhirat, surga dan neraka terdapat di langit ke tujuh, maka bisa dikatakan surga dan neraka itu begitu dekat dengan dunia kita tapi berbeda dimensi.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa langit dunia kita ini merupakan bagian dari struktur langit ketujuh. Berarti alam dunia ini merupakan bagian terkecil dari alam akhirat. Penjelasan ini sesuai dengan hadist Nabi:
“Perbandingan antara alam dunia dan akhirat adalah seperti air samudera, celupkanlah jarimu ke samudera, maka setetes air yang ada di jarimu itu adalah dunia, sedangkan air samudera yang sangat luas adalah akhirat”.

Perumpamaan setetes air samudera di ujung jari tersebut menggambarkan dua hal:
1.        Ukuran alam dunia dibandingkan alam akhirat adalah seumpama setetes air di ujung jari dengan keseluruhan air dalam sebuah samudera. Hal ini adalah penggambaran yang luar biasa betapa luasnya alam akhirat itu.
2.        Keberadaan alam dunia terhadap alam akhirat yang diibaratkan setetes air berada dalam samudera. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa alam dunia merupakan bagian dari alam akhirat, hanya ukurannya yang tak terbatas kecilnya. Begitu juga dengan kualitas dan ukuran segala hal, baik itu kebahagiaan, kesengsaraan, rasa sakit, jarak, panas api, dan lain sebagainya, di mana ukuran yang dirasakan di alam dunia hanyalah sedikit sekali.

Berbagai ruang dimensi dan interaksi antar makhluk penghuninya

1.        Langit pertama atau langit dunia

Seperti disebutkan pada ayat 11-12 Surat Fushshilat, maka yang disebut langit yang dekat tersebut adalah langit dunia kita ini atau disebut juga alam semesta kita ini. Digambarkan bahwa langit yang dekat itu dihiasi dengan bintang-bintang yang cemerlang, dan memang itulah isi yang utama dari alam semesta. Bintang-bintang membentuk galaksi dan kluster hingga superkluster. Planet-planet sesungguhnya hanyalah pecahan dari bintang-bintang itu. Seperti tata surya kita, matahari adalah sebuah bintang dan sembilan planet yang mengikatinya adalah pecahannya, atau pecahan bintang terdekat lainnya. Sedangkan tokoh utama di langit pertama ini adalah kita manusia yang mendiami bumi, planet anggota tata surya. Langit pertama ini tidak terbatas namun berhingga. Artinya batasan luasnya tidak diketahui tapi sudah bisa dipastikan ada ujungnya. Diperkirakan diameter alam semesta mencapai 30 miliar tahun cahaya. Artinya jika cahaya dengan kecepatannya 300 ribu km/detik melintas dari ujung yang satu ke ujung lainnya, maka dibutuhkan waktu 30 miliar tahun untuk menempuhnya.


Penjelasan gambar:
Apabila digambarkan bentuknya kira-kira seperti sebuah bola dengan bintik-bintik di permukaannya. Di mana bintik-bintik tersebut adalah bumi dan benda-benda angkasa lainnya. Apabila kita berjalan mengelilingi permukaan bola berkeliling, akhirnya kita akan kembali ke titik yang sama. Permukaan bola tersebut adalah dua dimensi. Sedangkan alam semesta yang sesungguhnya adalah ruang tiga dimensi yang melengkung seperti permukaan balon itu. Jadi penggambarannya sangat sulit sekali sehingga diperumpamakan dengan sisi bola yang dua dimensi agar memudahkan penjelasannya.

2.        Langit kedua

Seperti diterangkan sebelumnya bahwa setiap lapisan langit tersusun secara dimensional. Diasumsikan bahwa pertambahan dimensi setiap lapisan adalah 1 dimensi. Jadi apabila langit pertama atau langit dunia kita ini berdimensi 3, maka langit kedua berdimensi 4. Langit kedua ini dihuni oleh makhluk berdimensi 4, yakni bangsa jin.

Penjelasan gambar:
Apabila digambarkan posisi langit kedua terhadap langit pertama adalah seperti gambaran balon pertama tadi. Di mana bagian permukaan bola berdimensi 2 adalah alam dunia kita yang berdimensi 3, sedangkan ruangan di dalam balon yang berdimensi 3 adalah langit kedua berdimensi 4. Jadi apabila kita melintasi alam dunia harus mengikuti lengkungan bola, akibatnya perjalanan dari satu titik ke titik lainnya harus menempuh jarak yang jauh. Sedangkan bagi bangsa jin yang berdimensi 4 mereka bisa dengan mudah mengambil jalan pintas memotong di tengah bola, sehingga jarak tempuh menjadi lebih dekat. Deskripsi lain adalah seperti gambar berikut:

Bayangkanlah permukaan tembok dan sebuah ruangan yang dikelilingi oleh dinding-dindingnya. Umpamakan ada dua jenis makhluk yang tinggal di sana. Makhluk pertama adalah makhluk bayang-bayang yang hidup di permukaan tembok berdimensi 2. Sedangkan makhluk kedua adalah makhluk balok berdimensi 3. Ingatlah analogi alam berdimensi 3 dengan makhluk manusianya adalah permukaan tembok dan makhluk bayang-bayangnya, sedangkan alam berdimensi 4 dan makhluk jinnya adalah ruangan berdimensi 3 dengan baloknya.
Tampak dengan mudah dilihat bahwa kedua alam berdampingan dan kedua makhluk hidup di alam yang berbeda. Kedua makhluk juga mempunyai dimensi yang berbeda, bayang-bayang berdimensi 2 sedangkan balok berdimensi 3. Makhluk berdimensi 2, yaitu bayang-bayang tidak bisa memasuki ruangan berdimensi 3, dia tetap berada di tembok, sedangkan makhluk berdimensi 3 yakni balok dapat memasuki alam berdimensi 2, yakni tembok. Bagaimanakah caranya balok bisa memasuki dinding yang berdimensi 2?
Balok yang berdimensi 3 memiliki permukaan berdimensi 2 yakni bagian sisi-sisinya. Apabila si balok ingin memasuki alam berdimensi dua, dia cukup menempelkan bagian sisinya yang berdimensi 2 ke permukaan tembok. Bagian sisi balok sudah memasuki alam berdimensi 2 permukaan tembok. Bagian sisi balok ini dapat dilihat oleh makhluk bayang-bayang di tembok sebagai makhluk berdimensi 2 juga. Analoginya adalah jin yang dilihat oleh kita penampakannya di alam dunia sebenarnya berdimensi 4 tetapi oleh indera kita dilihat sebagai makhluk berdimensi 3 seperti tampaknya sosok kita manusia.

3.        Langit ketiga sampai dengan langit ketujuh

Langit ketiga sampai dengan keenam dihuni oleh arwah-arwah, sedangkan langit ke tujuh adalah alam akhirat dengan surga dan nerakanya. Analoginya sama dengan langit kedua di atas, karena pengetahuan kita hanya sampai kepada alam berdimensi 3

 Informasi di dalam al Quran Tentang Tujuh Langit

Al Quran menuturkan kepada kita tentang tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan bumi di dalam ayat-ayat berikut:

1.        Qs. Al Baqarah: 29. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.
2.        Qs. Al Israa: 44. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.
3.        Qs. Fushshilat: 12. “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.
4.        Qs. Al Mulk: 3. “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang- ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”.
5.        Qs. Ath Thalaaq:12. “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.

Ayat-ayat tersebut di atas bericara tentang bilangan langit, yaitu tujuh, dan bentuk langit, yaitu berlapis-lapis. Inilah arti kata thibaqan yang kita temukan di dalam kitab-kitab tafsir al Quran dan kamus-kamus bahasa Arab. Selain itu, ayat-ayat tersebut di atas menegaskan bahwa bumi itu menyerupai langit, dan hal itu diungkapkan dengan kalimat, ‘Dan seperti itu pula bumi.’ Sebagaimana langit itu berlapis-lapis, maka begitu pula bumi, dan masing-masing jumlahnya tujuh lapisan.

Informasi dalam Sunnah Tentang Tujuh Langit

Seandainya kita meneliti hadits-hadits Rasulullah saw, maka kita menemukan sebuah hadits yang menegaskan keberadaan tujuh lapis bumi, maksudnya tujuh lapis yang sebagiannya membungkus sebagian yang lain. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang menyerobot sejengkal tanah, maka Allah akan menimbunnya dengan tujuh lapis bumi”. (HR Bukhari). Kata menimbun dalam hadits tersebut diungkapkan dengan kata thawwaqa yang secara bahasa berarti meliputinya dari semua sisi.
Pertanyaannya adalah: Bukankah hal ini merupakan mukjizat Nabi yang besar? Bukankah hadits yang mulia ini telah menentukan bilangan lapisan bumi, yaitu tujuh, dan menentukan bentuk lapisan itu, yaitu meliputi dan menyelubungi. Bahkan hadits ini memuat sinyal tentang bentuk bulat atau semi-bulat. Al Quran dan Sunnah telah mendahului ilmu pengetahuan modern dalam mengungkapkan fakta ilmiah ini. Selain itu, al Quran juga telah memberi kita penjelasan yang tepat mengenai struktur bumi dengan menggunakan kata thibaqan. Meski Rasulullah Muhammad SAW memiliki banyak mukjizat fisik seperti menyembuhkan orang lumpuh, membelah bulan, berbicara dengan binatang seperti Nabi Sulaiman, para sahabat berjalan di atas laut, memberi makan ribuan orang dengan sedikit makanan, dan masih sekitar 300 mukjizat lainnya, tapi tetaplah Qur’an ialah Mukjizat terbesar sepanjang masa.
Itulah mengapa al Quran disebut mukjizat terbesar sepanjang masa kerana banyak ayat Quran yang dapat dibuktikan oleh peralatan modern abad terahir. Mulai dari Astronomi, Geology, Biology, Math, chemistry, Oceanography dan segala bidang. Sebuah Mukjizat terbesar berupa kitab yang diturunkan melalui seorang Al Amin (tak pernah berbohong) yang tak dapat membaca di zaman kuno kepada ummat terakhir yang pintar dan selalu membaca buku di zaman modern dan baru dapat dibuktikan oleh peralatan akhir zaman. Siapa lagi yg mewahyukan jika bukan Pencipta Alam Semesta (Allah)?.
  
Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Klasik

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis” yakni sebagian diantaranya berada di atas sebagian yang lain tanpa bersentuhan. Dalam pengertian ini, Allah telah menciptakan langit dengan berlapis-lapis yang mempunyai maksud-maksud tertentu. Karena dalam perkembangan dan pengetahuan yang telah terkumpulkan bahwa langit yang ketujuh itu terletak di super galaksi yang banyak sekali gumpalan-gumpalan meteor dan banyak galaksi yang terkumpul di dalamnya.

Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Bir Ra’yi

Dalam al Quran juga telah dipaparkan dengan secara rinci, yaitu dalam surat Mulk: 3-4.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak melihat pada ciptaan ar-Rahman sedikitpun ketidak seimbangan. Maka ulangilah pandangan itu adakah engkau melihat sedikitpun keretakan? Kemudian ulangilah pandangan itu dua kali niscaya akan kembali kepadamu pandangan itu kecewa, dan ia menjadi lelah.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa yang telah menciptakan tujuh langit berlapis lapis serasi dan sangat harmonis. Engkau siapa pun engkau kini dan masa datang tidak melihat pada ciptaan Allah yang kecil maupun yang besar ketidaksinambungan.

Sab’a samawat/tujuh langit dipahami oleh para ulama dalam arti planet-planet yang mengitari tata surya selain bumi karena itulah dapat terjangkau oleh pandangan mata serta pengetahuan manusia, paling tidak saat turunnya al Quran. Hemat penulis QS. Al Mulk:3-4 dapat dipahami juga lebih umum, karena angka tujuh bisa merupakan angka yang menggantikan kata banyak.

Dalam al Quran, diungkapkan juga dalam surat Hud: 7.

“Sesungguhnya Allah telah menentukan keterangan-keterangan dari seluruh makhluk, seluruhnya Dia menciptakan semua langit dan bumi, 50.000 tahun lebih dahulu. Dan ‘Arsy-Nya adalah di atas air”.
Ayat ini telah memberikan isyarat, bahwasannya penentuan (takdir) yang akan ditempuh sekalian makhluk telah diatur terlebih dahulu sampai kepada hal yang kecil, 50.000 tahun sebelum tujuh langit dan bumi dijadikan. Maka bertambah dapat dipahami bahwa menciptakan tujuh langit di serambi bumi itu adalah dalam masa enam hari, yang berapa sebenarnya bilangan sehari itu, hanya Allah yang Maha mengetahuinya. Itu juga dijelaskan dalam ayat ini, bahwasannya di bawah naungan langit yang tinggi, di atas dihamparan bumi yang luas manusia hidup untuk diuji, siapakah yang lebih baik amalnya.

Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Kontemporer

Menarik menyimak argumentasi para peminat astronomi tentang makna sab’a samaawaat (tujuh langit). Namun ada kesan pemaksaan fenomena astronomis untuk dicocokkan dengan eksistensi lapisan-lapisan langit. Di kalangan mufasirin lama pernah juga berkembang penafsiran lapisan-lapisan langit itu berdasarkan konsep geosentris. Bulan pada langit pertama, kemudian disusul Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada langit kedua sampai ketujuh. Konsep geosentris tersebut yang dipadukan dengan astrologi (suatu hal yang tidak terpisahkan dengan astronomi pada masa itu) sejak sebelum zaman Islam telah dikenal dan melahirkan konsep tujuh hari dalam sepekan.

Benda-benda langit itu dianggap mempengaruhi kehidupan manusia dari jam ke jam secara bergantian dari yang terjauh ke yang terdekat. Bukanlah suatu kebetulan 1 Januari tahun 1 ditetapkan sebagai hari Sabtu (Saturday — hari Saturnus — atau Doyobi dalam bahasa Jepang yang secara jelas menyebut nama hari dengan nama benda langitnya). Pada jam 00.00 itu Saturnus yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Bila diurut selama 24 jam, pada jam 00.00 berikutnya jatuh pada matahari. Jadilah hari berikutnya sebagai hari matahari (Sunday, Nichyobi). Dan seterusnya. Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi hari Bulan (Monday, getsuyobi, Senin), hari Mars (Kayobi, Selasa), hari Merkurius (Suiyobi, Rabu), hari Jupiter (Mokuyobi, Kamis), dan hari Venus (Kinyobi, Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti tumbuhan sidrah yang tak terlampaui, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam al Quran dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha.

Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih disebutkan sebagai berikut: Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit kedua sampai ketujuh. Di langit kedua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga ada Nabi Yusuf, di langit keempat ada Nabi Idris, di langit ke lima ada Nabi Harun, di langit keenam ada Nabi Musa, dan di langit ketujuh ada Nabi Ibrahim.

Di langit ketujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi. Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (pena). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia yaitu sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir. Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam al Quran surat An Najm ayat 13-15. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.

Langit (samaa’ atau samawat) di dalam al Quran berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak dikenal dalam astronomi. Ada yang berpendapat lapisan itu ada dengan berdalil pada surat al Mulk 3 dan surat Nuh ayat 15. sab’a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag menyebutkan “tujuh langit berlapis-lapis” atau “tujuh langit bertingkat-tingkat”. Walaupun demikian, itu tidak bermakna tujuh lapis langit. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi (berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dan lain-lain) bermakna bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.

“Bertingkat-tingkat” berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak seperti titik-titik pada gambar di kertas.

Lalu apa makna tujuh langit bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam al Quran ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika dikenal istilah “tak terhingga” dalam suatu pendekatan limit, yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya yang lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula, makna ungkapan “tujuh” dalam beberapa ayat al Quran.

Misalnya, di dalam QS. Luqman: 27 diungkapkan, “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya. Sama halnya dalam QS. At Taubah: 80: “…Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun….” Jelas, ungkapan “tujuh puluh” bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali. Jadi, ‘tujuh langit’ semestinya dipahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Kemudian apa makna langit pertama, kedua, sampai ketujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha juga dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib. Dalam kisah mi’raj itu peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, menurut penulis bahwa pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang- bintang, tetapi langit ghaib sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha.

Dalam bahasa al Quran, kata sab’a (tujuh) tidak selalu berarti sebuah bilangan bulat antara 6 dan 8. Kata sab’a terkadang menunjukkan jumlah yang banyak sekali. Misalnya “tujuh lautan” surat Luqman ayat 27, menunjukkan jumlah yang banyak artinya: andai sebanyak apa pun lautan dijadian tinta, ia tak akan sanggup menuliskan semua ilmu Allah. Fakta menarik: kata “tujuh langit” muncul tujuh kali dalam dua redaksi: sab’a samawat:
1.        QS. Al Baqarah ayat 29.
2.        QS. Al Isra ayat 44.
3.        QS. Al Mu’minun ayat 86.
4.        QS. Fushshilat ayat 12.
5.        QS. Ath Thalaaq ayat 12.
6.        QS. Al Mulk ayat 3.
7.        QS. Nuh ayat 15.

Bagaimanapun, Tentang 7 Langit Adalah Misteri. Hanya Sang Khalik Yang Tahu Pasti. WALLAHU A’LAM BISH SHOWAB.

Referensi:
Hamka, Tafsir Al Azhar, Singapura: Pustaka Nasional, 1993.
Tafsir Jalalain jilid 2.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2002
Al ‘Alim: Al Quran Edisi Ilmu Pengetahuan Munasabah, hlm. 562
Tujuh langit tidak berarti tujuh lapis. http://media.isnet.org/isnet/Djamal/langitdl.html
http://serpihanfb.mywapblog.com/menyingkap-misteri-7-lapisan-langit-dan.xhtml